Minggu, 16 Desember 2018

Berita Terbaru Hari ini Nasib Peternak Ayam Petelur Blitar Kini di Ujung Tanduk

Berita Terbaru Hari ini Nasib Peternak Ayam Petelur Blitar Kini di Ujung Tanduk

Associated with

BLITAR Berita Terbaru Hari ini Nasib Peternak Ayam Petelur Blitar Kini di Ujung Tanduk  -  Peternak ayam petelur merasakan tekanan bisnis yang berat sepanjang tahun ini. Tekanan datang dari kebijakan pemerintah, hingga faktor pakan yang menyebabkan peternak merugi.

Tekanan bisnis benar-benar dirasakan oleh peternak ayam petelur di Blitar, Jawa Timur. Blitar merupakan salah satu sentra produsen telur terbesar di Indonesia dan pemasok telur terbanyak kedua setelah Jabodetabek.




Namun potensi bisnis yang besar itu mulai luruh karena kurangnya dukungan pemerintah. Bahkan akibat kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan antibiothic growth promoters (AGP), peternak mulai terbebani karena kebijakan itu berlaku efektif mulai Januari 2018.

Larangan ini mengacu UU Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan. Kementerian Pertanian pun mengeluarkan Permentan No. 14/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Peraturan ini ditetapkan karena antibiotik (antimikroba) bila digunakan secara berlebihan atau tidak bijak, dapat menjadi ancaman pada kesehatan hewan.

Berdasarkan perkiraan para ahli, jika laju resistensi antimikroba (AMR) tidak bisa dikendalikan, maka AMR dapat menjadi pembunuh nomor satu di dunia pada 2050.

Tanpa APG, biaya produksi peternak meningkat. Wahyu Sanjoyo, salah satu peternak ayam petelur di Desa Kebonduren, Kecamatan Ponggok, Blitar, Jawa Timur mengaku tak sanggup lagi membiayai produksi telur dari 7.000 ekor ayam miliknya. Ia pun terpaksa menjual sekitar 2.000 ekor ayam untuk mengurangi biaya produksi.

"Sekarang tinggal 5.000 ekor ayam dengan luas kandang 300 meter per segi, " kata Wahyu di depan kandang ternak ayam miliknya, Kamis (13/12/2018).

Wahyu memiliki tiga kandang ayam berbentuk persegi panjang. Kini, satu kandang paling pojok telah kosong. Dengan 5.000 ekor ayam itu, Wahyu membutuhkan biaya Rp 3 juta sampai Rp 5 juta per hari dengan produksi telur 200 kilogram (kg) per hari.


"Kalau dulu ya pasti berbeda biaya yang dibutuhkan, lebih murah. Saya terpaksa kurangi ayam untuk mengecilkan biaya produksi, " ujar Wahyu sambil menatap sesekali ke arah kandang ayam yang kosong.



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Recent Post